Selasa, 19 Juli 2016

catatan hujan

hujan.
saya suka hujan. suka aja. udah.

ada yang bilang hujan meresonansi menggapai kenangan-kenangan dulu yang tersimpan rapat tersembunyi jauh didalam sana. makanya katanya, sekali lagi katanya hujan-hujanan terapi yang baik untuk mereka yang ada masalah sama kenangan. amnesia yah? iya. iya.. amnesia.

ada yang suka bau tanah setelah hujan. hmm.. menentramkan. katanya.

saya suka hujan. suka aja. udah.

yawdahlah..

asal masih mau belajar semua akan baik-baik saja. persoalan dimana level kita cuma perkara siapa yang memulai lebih dulu. mungkin sedikit terlambat untuk putar stir. tapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. pepatah, "seribu mil di mulai dari satu langkah kecil."
"sok banget sih bud!" "lemparin sendal nih..!"
"hahaha.. ngopi yuk!"

Sabtu, 18 Juni 2016

Nurina Selamat jalan

Waktu berlalu dan kami siswa kelas 6 SD mulai sibuk belajar untuk ujian nasional dan selanjutnya mencari sekolah baru meneruskan jenjang SMP. Sekolahku adalah sekolah yayasan mulai dari TK, SD, dan SMP. Sebagian besar dari kami melanjutkan disekolah yang sama termasuk Nurina, yang lain mencoba masuk sekolah negeri. Sementara aku memilih untuk masuk pesantren ikut kakak yang sudah duluan disana. Waktu itu aku merasa bangga sekali mau masuk pesantren termasuk guru-guru dan teman yang tahu keinginanku untuk pesantren ikut bangga dan mendukung keputusanku. Rasanya, begitu jelas arah mana jalan yang kupilih. Setelah benar-benar dinyatakan lulus aku fokus mengikuti proses seleksi penerimaan santri baru di pesantren daerah banten itu. Sebuah pesantren modern dengan sistem pendidikan seperti gontor almamater kyai  pendiri pesantrenku. Ahmad adalah kawan dekatku yang juga memilih pesantren melanjutkan SMPnya di daerah jakarta barat. Jadi, ada dua orang siswa sekolah kami yang melanjutkan ke pesantren.

Seingatku waktu itu hari terakhir tes penerimaan santri baru adalah baca tulis Al-Qur'an dan wawancara yang akan menentukan diterima atau tidaknya aku sekolah disana. Setelah lama menunggu akhirnya kami diberitahukan bahwa nama-nama peserta yang diterima sudah dapat dilihat di papan-papan tulis di aula pesantren.  Waktu itu ayah yang mencari namaku dan tidak lama kemudian ayah kembali dengan sumringah. Aku diterima.

Setelah resmi menjadi santri baru kemudian dilanjutkan dengan penentuan gedung asrama, kamar dan kelas. Kamarku terletak di Gedung Annajah kamar 6 bersama 20an santri baru lainnya dan 1orang kakak kelas 5 yang menjadi ketua kamar. Untuk sekolah, aku ditempatkan di kelas 1J. Penentuan kelas berdasarkan peringkat. Jadi, mereka yang pintar otomatis akan mendapat kelas unggulan A,B dan C. Untuk angkatanku kelas satu sampai dengan 1Q. Sistem ini sengaja dilakukan dengan nuansa "Fastabiqul khoirot" (berlomba dalam kebaikan) yang selalu digaungkan kyai disetiap pidatonya. Sepertinya begitu.

Sejak aku dipesantren aku tidak pernah lagi berhubungan dengan teman-teman sekolahku dulu. Melalui telpon biasanya ibu mengabari tentang kabar teman-teman sekolahku dan salam dari guru-guru supaya betah dan giat belajar di pesantren. Ibu memang sangat aktif dan menjadi pengurus majlis ta'lim untuk wali murid di sekolah juga karena masih ada adikku yang masih sekolah disana.

Dipesantren kami memang ditempa untuk belajar, belajar, dan belajar. Urusan ibadah sholat 5 waktu selalu(wajib) berjamaah di masjid. Mengaji kami mendapat firqoh(kelompok) yang dipimpin kakak kelas dan ustadz. Komunikasi dengan luar sangat dibatasi. zaman itu telpon genggam belum ada. Tapi, pesantren menyediakan wartel dilingkungan pesantren. Tv, radio tidak diperbolehkan disini. Kalaupun dibolehkan dengan aktivitas yang begitu padat rasanya tidak ada waktu untuk menonton TV atau mendengarkan radio. Aku sangat menikmati hari-hariku dipesantren dulu meskipun awalnya diminggu pertama kami para santri baru sering menangis karena rindu rumah.

Hari-hari berlalu begitu cepatnya sampai akhirnya aku naik kelas 2. Sampai pada suatu hari ketika aku menelpon ke rumah ditengah percakapanku tiba-tiba ibu ingin menyampaikan sesuatu yang sangat serius.
(Di telepon)
Ibu: "bud, ibu ado kabar tapi kau jangan sedih ya. Sabar-sabar."
Aku: "kabar apo bu?" Perasaanku langsung bingung. Takut tapi penasaran.
Ibu: "hmm.."
Aku:"kenapo bu?!"
Ibu: "kawan kau Nurina.."
Aku: "Nurina kenapo bu?"
Ibu: "Nurina meninggal"
Aku: "inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uun" lalu aku terdiam dan seketika sekujur tubuhku dingin. Aku menggigil. Flash back kenangan dengan Nurina sekejap memenuhi otakku. Tak terbendung air mataku mengalir dan seketika hidungku mampat. Kuseka air mataku jangan sampai ada yang melihatku menangis. Kudongakkan kepalaku menahan air mata. Ini adalah kehilangan sahabat pertamaku.
Ibu: "budi. Kau yang sabar yoo.. kirim do'a buat Nurina."
Aku: "iyo bu. Nurina kenapo bu?"
Ibu: "Nurina caknyo sakit. Waktu balek dari senayan samo kawan-kawan." (Nurina kayaknya sakit. Waktu pulang dari senayan)
Aku: "ooh, iyo bu. Bu sudah dulu yo. Aku nak balek ke kamar." (Bu sudah dulu ya. Aku mau ke kamar.)
Ibu: "yo bud."
Aku: "Assalamu alaikum"
Ibu: " waalaikum salaam"
Begitu selesai menutup telpon. Aku langsung kembali ke kamar. Kurebahkan badanku di kasur dan kututupi muka dengan bantal. Kupuaskan tangis dan ingusku sore itu. Nurina selamat jalan.

Kamis, 16 Juni 2016

Nuri..na!! Minta belimbing

Meski samar-samar aku ingat wajahnya. Tapi, senyumnya lekat sekali di hati. Bibir tipis dengan lesung pipit dan geliginya yang tersusun rapih. Cantik.
Perempuan mungil dan cantik itu namanya Nurina (cahaya kami). Nurina tidak hanya cantik, dia sopan, ramah, baik. Tak puas ketemu di sekolah aku sering cari-cari alasan supaya bisa main kerumahnya. Adalah samsul sahabat baikku yang paling sering kuajak ke rumah nurina atau sebaliknya. Minjem catetan, ngerjain pe-er bareng, atau minta belimbing alasan yang paling sering. Samsul dan keluarganya saban siang suka sekali rujak.
Samsul "Bud, ngrujak yuk!"
Aku: "yuk..!! Kerumah Nurina minta belimbing!!"
Samsul: "yuk..!!"
Kami kerumah Nurina naik sepeda. Sepanjang jalan kerumah Nurina aku senyum-senyum sendiri.
(Di rumah Nurina)
Aku: "sul, panggil gih"
Samsul: "elu aja bud.."
Aku: "bareng ya tapi"
Samsul: "iyaa"
Aku, samsul: "Nuri...na!! Minta belimbi..ng"
Cekrek, suara pintu dibuka
Nurina: "eh, iya.. boleh"
Buka pager
Aku, samsul: "hehehehe.."
Samsul: "bud panjaat!!"
Nurina senyum. Aku bengong. Bego.
Samsul: "bud!! Panjaat!"
Aku: "eh,, iya sul"
Soal panjat memanjat memang aku yang selalu disuruh lantaran kurus. Jadi bisa menggapai belimbing yang di ujung dahan. Samsul menunggu operan belimbing dariku dibawah.
Nurina: "ambilnya yang udah kuning-kuning aja ya" sambil mendangak kearahku
Aku: "iya nur'
Samsul: "bud, udah cukup nih. Banyak"
Aku: "oke!!"
Turun dari pohon
Aku: "nur, makasih yaa"
Nurina: senyum "iya, sama-sama"
Samsul: "Nur, makasih yaa"
Nurina: senyum "iya, sama-sama"
Samsul: "yuk bud. Pulang"
Aku: "yuk..!"
Yes, udah ketemu nurina. Kami pulang kerumah samsul buat lanjut ngerujak. Samsul dapet belimbing. Aku dapet ketemu Nurina. Kemudian kami tersenyum sepanjang jalan.
Di lain hari aku dan samsul janjian main sepeda sore. Rumah Nurina selalu jadi rute sepeda kami. Setiap depan rumah nurina aku selalu mengurangi laju sepeda kemudian kupanggil "Nuri..na!!" Kemudian kutengok kebelakang. "Ah, nggak keluar. Tapi, gapapa deh kan udah lewat rumahnya." Ngomong sendiri. Meskipun cuma ketemu rumahnya. Itu saja sudah cukup untuk menggenapkan hari dan membuatku tersenyum.

NAK BELI GENDOM

Waktu itu umurku sekitar 9 tahun kenaikan kelas 3 sd kemudian pindah sekolah ke jakarta  yang sebelumnya sekolah di kampung sdn 18 muara enim. Di jakarta aku tinggal dengan bude dan alasan kenapa pindah ke jakarta "lupa".
Satu waktu bude minta tolong ke warung
Bude: "Bud, tolong belike bude gendom di warong bang kesuk. Ini duitnyo"
Aku: "Iyo de"
Segera aku pergi ke warung yang dimaksud bude.
(Di warung)
"Belanjo..."
"Belanjo...."
"Belanjo....!!'
Warung buka tapi koq nggak ada yang jaga. Akhirnya aku pulang ke rumah tanpa belanjaan.
Aku: "De dak katek yang jual" (de nggak ada yang jual)
Bude: "hah?! Kau cakmano tadi ke warong tu?" (Hah?! Kamu gimana tadi ke warung?)
Aku: "aku jeritke, belanjo.. belanjo.. dak katek yang metu" (aku teriak, belanjo..belanjo.. nggak ada yang keluar)
Bude: "ooh.. pantes lah. Kalo disini ngomongnyo beli bukan belanjo"
Aku: "ooh... iyo de"
Bude: "pegi sano ke warung lagi"
Berangkat lagi ke warung
(Di warung)
"Beli.."
"Be..li.."
Dari dalem ada yang teriak "iya... sebentar"
Eh, bener yang punya warung nyaut
Ibu warung: "iya tong, mau beli apaan?"
Aku: "nak beli gendom" langsung ngasih duit
Ibu warung: "hah?! Apaan?"
Aku: "nak beli gendo...m"
Ibu warung: "gendom?? Gendom apaan yak? Mpo kagak tau gendom apaan. Tanyain dulu gih balik ke rumah" balikin duit.
Hmm!!! Pulang lagi ke rumah. Masa orang jakarta nggak tau gendom. Payah.
(Di rumah)
Aku: " Bude, wong yang jual idak tau gendom"
Bude: "hahahaha!!" Ketawa puas banget
Bude: "kalo disini gendom itu terigu.. budi..."
Aku: "ooh..te..ri..gu..."
Bude: " pegilah lagi. Beli terigu yo.."
(Di warung)
Aku: be..li..!!"
Ibu warung: "eh, iya tong apaan?"
Aku: " beli terigu" kasih duit
Ibu warung: "ooh terigu.. gendom ya?"
Aku: "iyo, terigu"
Ibu warung: "nih terigunya, ini kembaliannya"
Aku: "iyo, mokaseh buk"

Minggu, 18 Oktober 2015

Hikayat lama. Tentang monyet dan tiga angin

cerita yang saya terima dan belum mengetahui darimana sumbernya ini. saya ceritakan kembali dengan gaya dan bahasa saya sendiri.


Dahulu kala..
Tiga angin sedang berjalan-jalan. mereka adalah topan, puyuh, dan sepoi.
Dalam perjalanannya berjumpa mereka dengan seekor monyet yang sedang asyik dipucuk batang kelapa. Asyik sekali memilih buah kelapa.

Angin puyuh berseru: "bagaimana kalau kita bertaruh, siapa diantara kita bertiga yang bisa menjatuhkan monyet rakus itu."

"Hahaha.. biar aku yang mencoba pertama." Jawab topan dengan pongahnya.

Wuzz...!!!!
Genap kekuatan topan menggoyang batang kelapa dengan upaya menjatuhkan monyet dari batang kelapa. Sepenuh daya upaya pula monyet berpegangan. Erat sekali.

Hingga habis tenaganya. Topan kembali tanpa hasil. Menekuk mukanya menahan kesal. Puyuh dan sepoi diam tak berkomentar. "Nah, sekarang giliranku." Puyuh memecah keheningan.

Wuuiss...!!!
Tak kalah hebat dengan topan. Puyuh memutar-mutar batang kelapa mencoba memelantingkan monyet ke udara. Tak habis akal monyet yang ketakutan memeluk batang kelapa layaknya temu kangen keluarga sebab pecahnya perang saudara. Korut dan Korsel yang kini bertetangga.

Malang tak dapat ditampik. Hingga tuntas puyuh mencoba. Kegagalanpun harus ia terima.
Puyuh kembali. Topan tersenyum tipis merasa tidak sendiri. "Aku mau coba pula." seru sepoi pelan mengumpulkan kepercayaan diru. "Hahaha...Sontak topan dan puyuh tertawa."

"Lebih baik kita pulang. aku dan puyuh saja tak sanggup menjatuhkan monyet itu. besar betul tekad monyet itu." Sergah topan dengan bijaknya.

"Tapi aku mau mencoba." Sepoi bersikukuh.

"Baiklah, untuk memuaskan inginmu, Cobalah." Puyuh menengahi.

Semilir sepoi menghampiri monyet yang takzim menikmati kelapa pilihan yang manis air dan degannya. Dengan lembut sepoi membelai bulu bulu. Monyet mengantuk. Perut kenyang dan semilir angin sepoi. Monyet menguap panjang tanpa sengaja kehilangan pegangan.

Bukk!!!

Monyet terjatuh.

Topan dan puyuh menganga.


Kamis, 15 Oktober 2015

tips hemat hidup di jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengakui biaya hidup di Ibu Kota sangat mahal. Ia menilai biaya hidup bagi warga yang belum menikah dan jomblo di Jakarta, setiap bulannya mencapai Rp 2,5 juta. 

Karenanya, menurut Basuki, jika dalam satu keluarga hanya suami saja yang bekerja, tidak bisa bertahan hidup di Jakarta. "Kalau kamu punya istri dan anak yg gak kerja sebenarnya gak bisa hidup di Jakarta," katanya, Senin (27/7). http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/15/07/27/ns4wnh282-ahok-akui-biaya-hidup-di-jakarta-mahal

well, tidak bisa ditampik memang begitu kalau cuma punya gaji UMR. memang agak menyiksa tinggal di jakarta. tapi dengan niat dan perhitungan yang mantap kita bisa melakukan gerakan penghematan epic sepanjang sejarah.

pertama, jangan lupa sarapan. untuk memulai aktivitas seharian kita butuh energi. sumber energi adalah makan!! menu sarapan kenyang, enak, dan murah adalah nasi uduk atau ketupat sayur. Rp.8000

kedua, hindari beli minum air mineral. mahal.. sebagai investasi beli aja botol minum. bawa air minum dari rumah. kalau habis bisa refill di kantor atau minta pokoknya jangan beli.

ketiga, untuk bepergian dengan jarak yang wajar tidak terlalu jauh tidak perlu menggunakan kendaraan bermotor, mobil, atau angkot. jalan kaki atau naik sepeda adalah pilihan yang sangat bijak. badan sehat juga hemat. what a bright idea, right!!

keempat, untuk makan siang saya menghindari makan berat. alasan pertama, ngantuk. alasan kedua, hemat. menu makan siang saya adalah segelas kopi dua batang rokok dan dua buah pisang. tidak lebih dari Rp.8000. karena biasanya kalau untuk makan nasi di warung lebih kurangnya Rp.15000an.

kelima, untuk makan malam usahakan dibawah jam 8 malam. dan pilihlah menu sesuai selera.

keenam, sesekali kita butuh hiburan. pilihlah hiburan yang tidak hura-hura. bisa menonton bioskop, jalan-jalan ke taman, ke toko buku.

demikianlah jurus hemat yang saya sedang terapkan sekarang. karyawan dengan gaji UMR yang nge-pas sambil harus bayar sekolah dan setor cicilan tiap bulan. tidak kurang dari 2 juta harus saya keluarkan perbulan untuk bayar sekolah dan cicilan. dengan metode hemat yang saya terapkan. alhamdulillah.. sampai sekarang masih sehat.